Novel ‘Jejak Laut’  dengan penulis  Trampil Widodo, menceritakan petualangan seorang anak muda bernama Heru yang mengalami perjalanan keliling dunia. Awalnya dia hanyalah seorang mahasiswa UNPAD. Ketika dia berkuliah, dia selalu berusaha mendekati cewek dan hasilnya selalu gagal. Mulai dari 3 gadis cantik dikampus mereka, Amanda yang ternyata malah suka terhadap teman akrab Heru (Tigor).Dan yang terakhir Sekar, gadis cantik berkulit putih dengan wajah melankolis. Sekar adalah nama yang ia tulis di pasir pantai Cabo San Lucas, di pinus hutan Estonia, pada batu cadas tebing Mount Robrt, dan tak lupa pada tempat tidur susun di kabinnya. Heru selalu meluangkan waktu dengan gadis-gadis itu, tapi mereka tidak  pernah  menganggap serius perasaan Heru. Mulai dari Heru yang selalu ada ketika mengajari mereka hal-hal yang sama sekali tidak mengerti. Hingga Heru mampu menjual motornya sendiri hanya untuk menolong Sekar yang menghilangkan uang perusahaan. Hasilnya, semuanya menolaknya dan hanya memintanya
untuk menjadi teman biasa. Hal itu sempat membuatnya membenci wanita yang dengan mudahnya menolak dan meminta untuk berteman saja.
Hari-hari mulai berlalu, dengan sertifikat pengalaman job training ketika kuliah di Akademi Perhotelan, ditambah surat pengalaman kerja palsu yang dibuat oleh temannya. Dia diterima bekerja sebagai waiter selama 1 tahun di kapal pesiar ‘Silver Romeo’ dan segera berangkat ke Maroko, karena kapalnya akan singgah di Casablanca.
Sebelum berangkat ke Paris, Heru bertemu dengan Arman yang akan bekerja di kapal yang sama dengannya. Arman sendiri sudah pernah dikontrak sebelumnya sebanyak 3 kali.
Dari Paris mereka pun berangkat ke Casablanca. Selama di Casablanca, mereka terpaksa  menginap di hotel selama beberapa hari, karena Silver Romeo tidak jadi berlabuh di Casablanca karena cuaca buruk menyebabkan ombak yang cukup besar di Casablanca, dan pelayaran dilanjutkan ke Madeira. Di kota Casablanca terdapat poster film legendaris Casablanca yang dibintangi Inggrid Bergman dan Humprey Bogart, diproduksi pada tahun 1942, dan menjadi ikon Casablanca dan monumental bagi rakyat Maroko. Di Casablanca uang mereka sempat menipis. Karena Mahmud yang seharusnya membayar uang makan mereka selama di sana, dan ternyata Mahmud tidak memberitahukan hal itu.
Karena Silver Romeo tidak jadi berlabuh di Casablanca, mereka terpaksa di terbangkan ke Miami. Di bendara Miami, ketika ingin ke loket, Arman menyuruh Heru untuk antri di depannya, karena bahasa Inggris yang koboi membuatnya kurang percaya diri. Tapi terdapat masalah di loket imigrasi, karena mereka tidak memiliki Surat Pengantar untuk imigrasi ke Miami.
Mereka terpaksa dibawa oleh petugas Bandara. Setelah diinterogasi, akhirnya petugas membebaskan mereka dengan nasehat agar sekali lagi sebelum berangkat ke United States, mintalah Surat Pengantar.
Di teras bandara, mereka kebingungan mau kemana, tapi karena tatapan Petugas Bandara seperti mengawasi. Maka kedua-duanya cepat cabut dari Bandara dan istirahat di sebuah Pom Bensin yang sudah tutup. Tak lama kemudian setelah Arman tertidur, datang seorang pria berkulit putih berkumis lebat dengan memakai topi cokelat dan kemeja flannel kotak-kotak merah. Pertama-tama Heru ketakutan, tapi ternyata pria tersebut orang yang baik, dan malah memberikan uang yang lumayan. Sebab merasa harus berterimakasih karena Hero (pria tersebut tidak bisa mengucapkan kata Heru) telah mau mengobrol dengannya sampai pagi. Heru pertamanya menolak, tapi pria tersebut memberikannya agar Heru dapat membeli kartu telepon untuk menelepon Manajer SDM dan membeli 2 potong Karl’s Burger. Sebelum pria tersebut pergi, Heru mengatakan bahwa pria itulah yang pantas menjadi Hero, bukanlah dirinya. Tapi, pria tersebut malah mengatakan bahwa semua orang adalah Hero.
Setelah menghubungi kantor, akhirnya mereka menginap di hotel selama 2 hari sebelum mereka naik Silver Romeo.
Di Silver Romeo, Heru pertama-taa kebingungan dimana kamarnya, tapi untunglah dia bertemu pria Philipina, bernama Kentayong yang mengantarkannya, pria tersebut juga bekerja di bagian pelayanan kamar sama sepertinya. Sama seperti sebelumnya dia juga dipanggil Hero. Di kabinnya, dia bertemu pria Philipina lainnya, bernama Ding yang sedang minum Jack Daniel di waktu pagulung, kemudian kembali bekerja. Dan tentunya Heru meminta ikut, karena dia tidak merasa enak kalau tidak bekerja.
Di room Service, Heru disuruh mengantarkan pesanan sarapan yang beratnya bukan main, tangannya gemetaran, begitu juga seluru isi baki. Ketika baki sampai di bahu, getarannya semakin kencang. Ia pun tak berani melangkah.
Selama 15 jam bekerja, semua  badannya terasa sakit setelah mengantarkan banyak baki. Tapi, setelah 2 bulan iapun akhirnya terbiasa mengangkat beban-beban berat dan kaki-kakinya begitu lincah menyusuri koridor demi koridor. 4 bulan kemudian Arman minta izin pulang ke Indonesia, karena istrinya akan melahirkan anak pertama. Tapi perusahaan tidak mengizinkan karena kontraknya belum selesai. Sehingga Arman pun mulai bertingkah emosional, seenaknya, dan hobi pagulung. Hal itu sempat membuat mereka bertengkar, dan berakhir dengan Arman melepaskan tinju ke perut Heru.
Kemudian tibalah liburan musim panas di Amerika, sehingga di kapal terdapat banyak penumpang yang masih anak-anak. Yang mengesalkan bagi para pelayan kamar, adalah anak-anak tersebut memesan banyak makanan tanpa sepengetahuan orangtuanya. Dan terlebih tidak pernah memberikan tip sama sekali. Anak-anak tersebut juga menekan semua tombol di lift area public, sehingga para pelayan kamar terlambat mengantarkan pesanan.
Yang Heru tidak sukai adalah kabin 715, karena disana ada seorang gadis kecil berumur 9 tahun bernama Medelaine dengan pamannya bernama Davis. Medelaine cukup mengesalkan dengan kelakuan dan kata-katanya yang sok memerintah dan terbilang ketus. Dan selama melayani kamar itu, dia sama sekali tidak pernah diberi uang tip. Pada hari keempat,dia mengantarkan pesanan yang sama ke kabin tersebut. Dengan sopan dia mengajak berbincang dengan Medelaine yang hanya menonton kartun, tanpa bermain seperti anak lainnya. Medelaine hanya menjawab bahwa hal itu menjemukan.
Ketika Heru menata makanan di meja, gadis tersebut menanyakan hal yang menurut Heru cukup aneh. Sebelum Heru pergi, Medelaine menanyakan apakah Heru tidak menyukainya. Tentu saja Heru diam Karena dia memang tidak menyukai anak tersebut. Tanpa menunggu jawaban, gadis tersebut duduk di kursi makan untuk membuka kardus sereal. Melihat gadis tersebut kesulitan, Heru dengan sigap membantunya. Kemudian gadis tersebut memberikannya sebuah amplop putih, pertama dia mengira itu uang tip. Setelah disuruh membukanya, barulah dia tau isinya gambar seorang anak perempuan yang memberi makan seekor kucing. Gadis tersebut menanyakan apakah Heru menyukainya, karena dia menggambarnya tadi malam. Heru hanya bisa mengangguk.
Berakhirnya liburan musim panas, menjadikan hari itu merupakan hari terakhir Heru melayani kabin 715. Kali ini, bukan keponakannya yang bertanya aneh pada Heru, melainkan pamannya. Dia menanyakan apakah Heru menyukai Garfield. Heru menjawab bahwa dia menyukai karakter Garfield yang benar-benar mencerminkan karakter kucing yang sebenarnya. Cuek dan Hobinya tidur. Mr. Davis tersenyum mendengarnya, dan menyuruh Medelaine memberikan amplop, dan mengatakan bahwa dia adalah creator of Garfield, Jim Davis.
Di kabin Pak Narto, Pak Narto sendiri membuka pekerjaan sampingan mencukur. Hari itu pak Narto tidak melayani orang yang ingin dicukur, karena tangannya sedang sakit terjepit pintu. Dengan tenaga dalam yang dialirkan Heru ke tangan Pak Narto, beberapa hari kemudian tangannya pun sembuh. Lama kelamaan makin banyak orang yang meminta dipijat oleh Heru. Heru menjadikan memijat menjadi kerja sampingannya.
Pada 11 September, karena gedung kembar di New York ditabrak pesawat, kapal terpaksa diberhentikan selama seminggu, karena FBI harus memeriksa semua isi kapal dan awak kapal terutama yang memakai nama Arab.
Setelah FBI pergi, akhirnya semua awak kapal boleh keluar. Ketika Heru menyeberangi pertigaan Burrard Street dan Hastings Street, tiba-tiba muncul segerombolan orang berpakaian veteran, pendeta, berkerudung, berpeci, India, dan Tiongkok yang sedang melakukan demo 11 September. Ketika dia menyelinap di antara kerumunan tersebut, dia melihat Pia, teman lamanya yang berkebangsaan Philipina yang juga pernah bekerja di Silver Romeo. Mereka berdua bertemu seseorang dan sekelompok orang yang sangat mencintai damai. Mereka akhirnya berkumpul dengan orang tersebut dan bernyanyi ‘Blowing in the Wind’ bersama.
Kapal kembali ke Florida, Miami, sudah hampir setahun dia disana, tanda berakhirnya kontraknya dengan perusahaan. Tapi, karena Pak Narto menyuruhnya untuk memperpanjang kontrak setahun lagi  agar dapat melihat Eropa, diapun memutuskan untuk memperpanjangnya. Kemudian Pak Narto pergi latihan gabungan bersama petugas pemadam kebakaran. Beberapa saat setelah Pak Narto pergi, terdengar ledakan, dan korbannya Pak Narto sendiri. Heru hanya bisa menangis  di tempat tidurnya.
Ketika pelayaran di Rusia, Heru bertemu seorang perempuan, bernama Vika. Heru sempat menjalani hubungan dengannya, tapi berakhir karena Vika pulang ke kampong halamannya, tanpa memberitahukan sebelumnya, dan hanya meninggalkan boneka kayu khas Rusia yang berisi surat tanda perpisahan dari Vika.
Di tempat tidurnya malam itu, Heru melihat angka pada kalender, dan ternyata dia sudah 23 bulan berlayar, dan hanya tinggal sebulan lagi untuk pulang ke Indonesia. Kemudian dia membaca surat dari Pak Narto yang sudah migrasi ke Swedia setelah dirawat selama sebulan di Miami.  Pak Narto memintanya untuk berkunjung kerumahnya di Visby. Dan dia akan menunjukkan Barber Shop miliknya.
Malam itu langit begitu mendung dan goyangan ombak semakin kuat, angin sangat kencang berembus. Ketika hujan mulai turun, pelayan kamar disuruh membersihkan geladak bawah. Ketika Heru hendak mengunci sebuah troli, tiba-tiba ombak besar datang sehingga kapal tiba-tiba miring. Heru pun akhirnya terhuyung, dan troli tersebut menghantamnya sehingga ia pun jatuh ke laut.
Heru pun bermimpi bertemu Pak Narto di Visby, dan Pak Narto berharap agar Heru tinggal bersamanya. Tapi, Heru menolaknya, dan tiba-tiba Pak Narto menghilang. Setelah siuman, Heru pun diperbolehkan kembali ke kabinnya. Di tempat tidurnya dia sama sekali tidak menemukan surat Pak Narto tersebut.
Sepulangnya ke Indonesia, Heru ke Cikapundung untuk menjual majalah Kartini milik kakaknya yang sudah pindah bersama suami dan anaknya. Di Cikapundung, ada seorang gadis yang sedang jongkok memilih-milih buku yang di gelar di trotoar. Heru menanyakan apakah perempuan tersebut kuliah di Perhotelan, dan gadis itu hanya tersenyum. Heru kembali iseng menanyakan apakah jangan-jangan perempuan tersebut pengantin baru yang belajar memasak untuk suaminya. Dan perempuan tersebut menjawab bahwa kakaknya yang baru menikah dan dia ingin menghadiahkan buku memasak.
Heru memberi pendapat, kalau ingin membeli resep makanan sebaiknya masakan Indonesia sehari-hari, Chinese Food For Today, dan Menu Eropa sederhana.
Selama berjalan mereka berdua berbincang-bincang dan semakin akrab. Kemudian Heru mengajaknya membeli CD dan DVD di pasar. Heru juga banyak menceritakan apa yang didapatnya dari pelayaran selama ini, seperti bentuk kota setiap negara. Hal itu membuat kagum Nesa, dan dia juga berharap bisa kuliah di Malaysia.
Setelah kenal beberapa hari, akhirnya mereka pun jadian. Malah dalam acara pernikahan temannya Heru, Nesa juga ikut. Teman-teman Heru sempat kaget, setelah tau siapa pacar Heru. Mereka tidak percaya gadis secantik itu, berpendidikan dan juga cukup kaya hingga bisa kuliah di luar negeri mau berpacaran dengan Heru yang tidak punya masa depan. Apalagi Sekar lebih heran disbanding yang lainnya, sampai-sampai dia menanyakan apakah Nesa serius. Dan tentu saja dia menjawab serius, tapi dia cukup bingung juga. Makanya, dia menanyakan pada Heru apa arti dari pernikahan. Dan Heru pun bercerita tentang Plato yang bertanya pada gurunya, Socrates, tentang arti cinta. Maka gurunya pun menyuruh Plato berjalan ke hutan besok pagi dan memilih 1 tanaman yang menurutnya paling bagus. Jika Plato sudah mengambilnya, maka dia tidak boleh menukarnya dengan yang lain. Besok paginya, Plato ke hutan dan kembali ketika malam tiba tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya kenapa dia tidak membawa apapun. Plato bercerita dia menemukan banyak tanaman bagus, tapi dia bingung memilihnya. Dan dia berpikir bila dia berjalan lebih jauh lagi, mungkin dia menemukan tanaman yang paling bagus. Tapi ternyata tidak, sehingga diapun kembali ke tempat sebelumnya, tapi dia tidak menemukannya lagi. Maka gurunya berkata bahwa Plato telah menemukan cinta.
Hari berikutnya Plato bertanya apa arti pernikahan, maka gurunya menyuruhnya kembali melakukan hal seperti kemarin. Dan hasilnya, Plato membawa sebuah tanaman yang tidak terlalu bagus. Gurunya pun bertanya apakah tanaman itu yang paling bagus. Plato pun menjawab tidak, tapi berdasarkan pengalamannya  kemarin, dia tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Dan tanaman yang diambilnya adalah tanaman yang lebih bagus dari tanaman sekitarnya. Gurunya pun menjawab Kalau Plato sudah menemukan arti pernikahan.
Malamnya, mendengar penuturan Heru, Nesa berharap dia bukan Plato yang tersesat di dalam hutan, dan terlalu cepat memilih tanaman. Dia sungguh takut cintanya pada Heru akan berubah. Dia pun tidak menjawab panggilan Heru, hingga Heru mengirim pesan
SELAMAT TIDUR, DIAJENG. SEMOGA HARI ESOK TIBA.”