SM Raja XII Tewas Dibunuh Belanda Setelah Mengetahui Jejak Kakinya


              Terbunuhnya Sisingamangaraja XII di Sibulbulon, belum banyak diketahui orang. Kisah nyata tersebut, belum ada yang membukukan secara utuh, namun hanya sepintas raja nan sakti itu tertembak setelah memegang putrinya Lopian yang terkena peluru Belanda.

             Apa, siapa, dan bagaimana kisahnya sehingga SM Raja XII yang bermarkas di Pearaja, Kecamatan Parlilitan itu tertembak dan dimana dikubur sampai saat ini masih menjadi perdebatan dikalangan masyarakat.

            Ada yang menyebutkan bahwa jasad SM Raja XII dibawa Belanda ke Balige (Kabupaten Tobasa
saat ini), sehingga ada kuburannya di sana. Sedangkan persi lain, ketika SM Raja XII tertembak sejumlah pasukannya menyembunyikan jasad SM Raja XII dan dikubur di Sibulbulon. Sedangkan jasat yang dikubur di Balige adalah salah satu panglima yang tewas di tempat.

           Sesungguhnya Belanda sendiri tidak mengenali wajah asli SM Raja XII karena yang menggunakan nama itu ada dua dari keturunan SM Raja XI.

            Menurut tetua adat dan orang yang mengetahui persis keberadaan Raja Sisingamangaraja XII tewas, dibunuh yang sebelumnya dikarenakan anaknya perempuannya bernama Lopian tertembak, sanga Raja memeluk putrinya yang dalam keadaan berlumuran darah. Padahal salah satu pantangan SM Raja adalah tidak bisa terkena darah.

           Sesungguhnya Raja Sisingamangaraja XII itu tewas dibunuh karena jejak kakinya sudah diketahui Belanda atas pengakuan dua warga yakni, Painulak Situmorang dan Peasiberang Situmorang yang memberitahukan lokasi persembunyian SM Raja XII kepada panglima koloni belanda bernama, Cristopel.

          Mari kita simak kisah nyata kematian Raja Sisingamangaraja XII yang nama panggilanya Oppu Pulau Batu Tuad Nabolas yang ditelusuri oleh Ekposnews di Desa Sionom Hudom Sibulbulon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan. Kisah tersebut diperoleh dari pengakuan, nenek (opung) Tiara S Sihotang, 66, Selasa 14 September 2010 di rumahnya.

          Menurut pengakuan S Sihotang, kisah tersebut diketahuinya atas datangnya Raja Sisingamangaraja XII ke dalam dirinya mulai tahun 1973. Sebelum menceritakan kisah Raja itu, kata Sihotang yang kelahiran tahun 1944 ini, sebelum rohnya masuk ketubuhnya, sejak SMP diakuinya memang ada rasa keinginan tahuan sejarah kematian Raja Sisingamangaraja XII tersebut.

          “Akan tetapi, hanya sebatas keinginantahuan saja dengan menanyakan kepada orangtua-orangtua pendahulunya. Namun begitupun, tiba-tiba saja Raja Sisingamangaraja datang ke tubuhku sejak tahun 1973. Sejak itulah, makanya makamnya yang berada di Desa Sionom Hudom Sibulbulon yang bersama-sama dengan kedua anaknya, Patuan Nagari dan putrinya, Lopian bersama beberapa panglimannya masing-masing bernama, Mat Sabang, Tengku Ben, Tengku Sagala, Nyak Bantal, Tengku Imun, Mangalipan Simbolon selaku pemegang stempel raja dan Tarluga Sihotang.

            Serta tugu markas besarnya raja itu yang isinya, gambar pion yang mengartikan tidak pernah mundur, aek tugal dan dua rumah lama (rumah istrinya dan rumah semedi) yang dulunya sempat dibakar oleh Belanda, 19 Juni 1907. ”Sayalah yang menjaga dan membersihkannya,” tutur dia.

           Tanpa ada buku maupun memakai sesajen, melihat Oppung (nenek) Tiara S Sihotang ini menangis menceritakan kisah Raja Sisingamangaraja XII itu untuk meluruskan sejarah yang tertinggal dalam perjuangan SM Raja XII dibelantara hutan Bukit Barisan dan sering kontrak dan kerja sama dengan raja-raja dari Aceh.

          Dengan berbahasa Batak, dia menceritakan yang diartikan ke bahasa Indonesia, Raja itu memiliki tiga anak (dua laki-laki satu perempuan) dari perkawinannya dengan boru Sagala masing-masing bernama, Patuan Anggi, Patuan Nagari, dan putrinya Lopian.

         Telah melakukan pertempuran dengan pasukan koloni Belanda, Cristopel mulai perjalanannya sejak tahun 1877. Dengan memiliki kesaktian luar biasa bersama dengan pisau keris bernama, pisau sumalih somba debata yang kini keberadaannya di museum di Jakarta serta tongkatnya, Raja terus melakukan perlawanan untuk memperjuangkan tanah air.

            Karena kekuatan pasukan Belanda pimpinan Cristopel begitu banyak, satu persatu panglima maupun anak buahnya tewas diterjang peluru Belanda. Mendengar panglimanya yang bernama, Riool Purba dan Mangase Simorangkir tewas, Raja pun bersama ketiga anaknya beserta istri dan panglimannya melanjutkan perjalanan dari Tarabintang menuju ke perbatasan Aceh Selatan.

            Diperjalanan yang sebelumnya sampai di perbatasan Aceh Selatan tepatnya di dalam gua Pinagam, tiba-tiba saja pisau sumalih somba debata terjatuh ke dalam sungai parjinatan. Tetapi, raja bersemedi, pisau tersebut kembali ke pangkuannya, sehingga perjalanan dilanjutkan dari gua Pinagam menuju Aceh.

            Entah kenapa tiba-tiba istrinya boru Sagala menyanyikan lagu kepada Raja. “Nagulang na pinasada ditombu batu nadua, nunga dapot bahina marujung pajuang na Raja.” Spontan, Rajapun terkejut sembari mengambil keris dari sangkurnya untuk mengetes kekuatannya. Keris raja sudah tidak memiliki kekuatan lagi, ketika diuji dari ujung kerisnya ke telur, telur tersebut tidak masak sebagaimana biasanya.

            Sihotang mantan kepala desa selama 1985 sampai 2.000 dikampungnya itu mengatakan akhirnya, Raja melanjutkan perjalanan mulai dari Bionalagoan, Salak dan Ulu Merah sampai ke Batu Gajah selanjutnya ke Pearaja, Kecamatan Parlilitan tempat markas besarnya yang dibangunnya tahun 1885 untuk mengambil alat perlengkapan lainnya.

            Selama perjalanan sebelum sampai di Peraja tempat markas besarnya, disamping itu Cristopel telah menangkap dua warga yang memiliki kesaktian masing-masing bernama Painulak Situmorang dan Peasiberang Situmorang dari kampungnya di Desa Batu Gajah. Dengan maksud mencari dimana keberadaan, Raja tersebut.

            Kedua orang itu tidak mau memberikan keterangan, lalu disiksa Belanda habis-habisan. Belanda menghantam kedua bokong warga itu dengan memakai bambu. Hingga akhirnya, karena merasa kesakitan kedua warga itu memberitahukan lokasi jejak kaki Raja tersebut.

            Berangkatlah pasukan Belanda bersama kedua warga itu dari Batu Gajah ke Alahan Lombu Dolok Nile. Disamping itu, kembali lagi Belanda menangkap dua warga lainnya yakni, Sipiso Barutu dan Sibocu Barutu. Hingga akhirnya, jejak kaki raja tersebut diketahui oleh Belanda. Selanjutnya, Belanda pun melakukan pengejaran dengan memperbanyak pasukannya.

            Kemudian, Raja yang bersama ketiga anak, istri dan para panglimannya yang menuju ke Pearaja tanpa mengetahui bahwa Belanda sudah mengejar dari Belakang. Akhirnya, mereka ketemu di lokasi Sibulbulon sebelum sampai di markas besarnya di Pearaja sempat terjadi kontak senjata dengan pasukan Belanda yang bersenjata lengkap.

              Patuan Nagari tertembak ketika melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda yang merangsek mereka. Begitu melihat abangnya tertembak, Lopian, putri Raja Sisingamangaraja berlari kearah kakaknya tersebut. Tetapi diapun kena tembakan Belanda. Sambil memegang bahu kirinya itu, Lopian berlari menuju arah Raja sembari mengatakan, ”Bapa ahu tertembak (bapak aku tertembak)”.

              Secara spontan, Rajapun terkejut melihat putrinya tertembak dan dipeluknya. Darah putrinya sudah mengenai badan raja yang menjadi pantangannya. Raja marah dan langsung melakukan penyerangan, namun sayang kesaktianya sudah hilang karena terkena pantangan yaitu darah. Raja akhirnya tewas ditangan Belanda yang sebelumnya biarpun kaki kirinya sudah tertembak, Raja sempat melakukan perlawanan, kata Sihotang mengakhiri kisah nyata kebenaran kematian Raja Sisingamangajaraja XII.

        Sudah 37 tahun Mengabdi

             Sihotang sudah 37 tahun mengabdi sebagai tukang bersih kuburan pahlawan nasional, Raja Sisingamangaraja XII serta mengetahui kisah nyata kematian Raja tersebut. Oppung Tiara S Sihotang yang dikaruniai 6 anak dari boru Limbong (istrinya). Ternyata, berhasil menyekolahkan empat orang anaknya menjadi sarjana, namun dia kurang diperhatikan pemerintah pusat dan daerah.

             Dimana, empat anaknya sarjana, tidak satupun diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

            Jalan menuju ke lokasi pemakaman SM Raja XII bersama kedua anaknya (Patuan Nagari dan putrinya, Lopian) bersama dengan para panglimannya, Mat Sabang, Tengku Ben, Tengku Sagala, Nyak Bantal, Tengku Imun, Mangalipan Simbolon selaku pemegang stempel raja dan Tarluga Sihotang, kurang mendapat perhatian dari pemerintah. “Sesungguhnya makam SM Raja XII ada di Sibulbulon, bukan di Balige.”



http://eksposnews.com/